Selasa, 23 Maret 2010
Orang-Orang Pewaris Surga Firdaus dan Kekal Hidupnya Disana (QS. Al Mukminuun: 10-11)
Sabtu, 12 Desember 2009
SEPENGGAL KISAH PERJALANAN SANG RAJA ZULKARNAEN
Dalam sebuah sekuel perjalanan Sang Raja Timur Barat, raja pertama setelah era Nabi Nuh as., dikala itu sang Raja, namanya adalah Iyyasha, bergerak bersama dengan balatentaranya, dalam sebuah perjalanan kesekian kalinya setelah menaklukkan negeri-negeri yang kafir kepada Allah SWT. Mereka berjumpa dengan segolongan umat dari kaum Musa as. yang taat kepada Allah SWT., karena sudah melewati perjalanan yang jauh dan rasa lelah sudah menghinggapi Raja dan pasukannya, lalu mereka beristirahat di kampung tersebut.
Sang Raja, mengamati dan melihat, ternyata dijumpainya keganjilan dan keanehan di lingkungan pemukiman kaum tersebut diantaranya:
1. orang yang meninggal di kubur di depan pintu masuk gubuk mereka
2. gubuk-gubuk mereka tidak punya daun pintu alias hanya ada kusen pintu
3. mereka tidak memiliki pemimpin
4. tidak ada hakim di jumpai disana
5. tidak ada raja dijumpai dalam kafilah tersebut, dan lain sebagainya.
Lalu beliau bertanya kepada kaum tersebut kenapa hal tersebut bisa terjadi; untuk itu mari kita simak dialog beliau dengan kaum umat Nabi Musa as. tersebut dibawah ini:
Raja: Wahai saudaraku, boleh aku diberitahu kenapa kuburan ada di depan pintu rumah kalian?
Kaum umat nabi Musa as.: Oh itu, agar kami tidak melupakan kematian dan agar dia tidak hilang dari hati kami.
Kaum umat nabi Musa as.: tidak ada satupun diantara kami punya tabiat mencuri, hidup kami Lillahi Ta’ala.
Kaum umat nabi Musa as.: selain yang telah kami sebut diatas, kami semuanya tidak pernah berbuat lalim.
Kaum umat nabi Musa as.: benar yang mulia, kami sejauh ini tidak pernah bertengkar, untuk apa hakim bagi kami.
Kaum umat nabi Musa as.: tepat sekali yang mulia, diantara kami tidak memiliki persaingan
Raja: kalau begitu diantara kalian tidak pernah berkeinginan mengungguli yang lainnya?
Kaum umat nabi Musa as.: ya, kami suka tolong menolong dan saling mengasihi sesama.
Raja: kenapa diantara kalian tidak pernah muncul perselisihan dan pertentangan?
Kaum umat nabi Musa as.: kami semua bersahabat dan kami berupaya menjaga hubungan kami secara terbuka sehingga tiada kecurigaan apapun diantara kami.
Kaum umat nabi Musa as.: So pasti itu, kami berupaya menguasai tabiat, hati, jiwa sehingga hal tersebut tidak pernah kami lakukan.
Raja: kenapa kalian pilih hidup cara begini? Berjalan searah di jalan yang lurus?
Kaum umat nabi Musa as.: mh…mmh, kami seirama tidak berdusta, satu bahasa tidak saling menipu, dan sama-sama tidak suka mempergunjingkan yang lainnya. Jadi kami seperjalanan dalam mengarungi hidup.
Kaum umat nabi Musa as.: oh…oh…anda detail sekali mengamati kami, kuncinya atas azas keadilan…adil sesama…cukup untuk semua.
Kaum umat nabi Musa as.: kami adalah sekumpulan orang-orang yang rendah hati dan tawadhu’.
Kaum umat nabi Musa as.: kami menjalankan hidup secara benar, tidak ngoyo tapi tawakal kepada Allah Yang Maha Kuasa, makan makanan yang sehat dan halal.
Kaum umat nabi Musa as.: kami mengatur kebutuhan hidup kami sesuai dengan kebutuhan dan yang paling penting adalah kami tidak pernah alpa beristighfar kepada Rabb kami.
Raja: roman muka kalian seakan-akan tidak pernah memperlihatkan kesedihan alias hati kalian gembira selalu, apa gerangan yang memungkinkan itu bisa terjadi?
Kaum umat nabi Musa as.: itu…kami siapkan diri kami jika sewaktu-waktu datang musibah dengan ikhlas, sehingga kami senantiasa menghibur diri kami.
Raja: apakah kalian tidak pernah mendapat bencana?
Kaum umat nabi Musa as.: kami perhatikan nenek moyang kami terbiasa mengasihani orang-orang miskin diantara mereka, membantu orang fakir disekelilingnya, memaafkan orang yang menzalimi mereka, melakukan kebaikan bagi yang mencelakakan mereka, memohonkan ampun kepada Allah bagi mereka yang berbuat kesalahan, tiada henti bersilaturrahim dengan sesama, selalu berkata benar, tiada dusta diantara mereka, sehingga Allah memperbaiki bagi mereka segala urusan.
Akhir petualangan raja Zulkarnain menaklukkan negeri-negeri dari Timur ke Barat ternyata berakhir di negeri kaum umat Musa as., beliau menghabiskan usia pengembaraan berperang terhadap negeri-negeri yang tidak beriman dan menjalankan perintah Allah, dinegeri ini dia mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati sampai dia kembali kepangkuan RabbNya dalam usia 500 tahun.
Kamis, 05 Februari 2009
B A C K T O B A S I C
Ada kisah yang layak kita jadikan bahan BACAAN, RENUNGAN, DAN PERUBAHAN apa yang harus kita kerjakan di tahun SHIO KERBAU TANAH 2009. Cerita ini merupakan kiriman dari saudara kita yang patut kita jadikan sebagai solusi dari krisis yang sedang berlansung dan akan berlansung dan marilah di waktu malam yang sunyi sepi kita bangun dan melakukan renungan dengan menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah SWT.
Seorang milioner yang sangat kaya raya, liburan liburan selalu mereka bepergian ketempat tempat yang aduhai asyik dan mewahnya, biasanya Eropa, Hongkong, Jepang, Australia, Amerika dan banyak tempat eksotis lainnya di Bumi yang adalah tujuan wisata mereka sekeluarga belum lagi di Nusantara, Manado, Danau Toba, dan Bali itu sudah langganan mereka.
Kali ini adalah liburan special bagi dirinya dan putranya, berdua mereka akan mengambil liburan dan bepergian dengan berkendaran mobil di sopiri Sang Milioner sendiri. Tujuan wisata mereka kali ini adalah desa yang sangat miskin. Ada rumah penginapan tidak jauh dari desa tersebut disitulah mereka akan bermalam beberapa hari ke depan.
Usai menikmati liburan, berdua mereka cabut dari penginapan tersebut, disaat melintasi perkampungan yang sejuk, damai, kiri kanan jalan di penuhi oleh petak petak sawah yang menghijau, sebagian ada yang mulai menguning seperti warna keemasan Sang Ayah mengajukan pertanyaan ke pada Sang Putra Mahkota yang akan mewarisi Bisnis Sang Milioner. Nak, menurutmu liburan kita kali ini bagaimana?
Wooowwwww, luar biasaaaa Ayah, katanya pula. Fresh fresh fresh sungguh bening sekali DESA tersebut.
Kita beberapa hari lalu melihat dan berbaur dengan mereka kelihatannya penduduk disini sangat miskin sekali bukan? Nak sebetulnya dalam perjalanan liburan kita kali ini apa sich yang menurutmu sangat berkesan? Sambil si Ayah menikmati panorama keindahan alam yang terpampang dihadapannya, sungguh indah yaaa alam pedesaan INDONESIA gumamnya.Si anak rupanya juga sedang menikmati TEBAR PESONA keindahan alam pedesaan yang mereka lewati, sehingga tidak begitu memperhatikan pertanyaan pertanyaan Sang Ayah, baru ketika pertanyaan serupa di ulangi lagi oleh Sang Milioner, si Putra Mahkota memberikan opini opini yang segar segar segar dan lugu.
Ayah katanya, kok dirumah kita hanya punya satu ekor anjing sedangkan mereka punya empat ekor anjing (dia melihat dan ikut terlibat memberi makan ke empat anjing milik salah seorang petani miskin). Di belakang rumah, kita punya kolam renang ukurannya hanya 7 meter x 10 meter, petani ini memiliki kolam renang (TELAGA) luasnya tidak terbatas (anak anak petani berenang di telaga dan dia sendiri juga tidak kuasa menahan keinginan untuk berenang sambil menikmati canda tawa dengan anak anak yang berenang tanpa menggunakan sehelai benang pun, ia sendiri tentu menggunakan pakaian renang karena kebiasaan bila berenang di kolam renang). Lentera lentera yang menerangi taman di halaman belakang rumah kita di malam hari semuanya adalah barang impor sedangkan mereka memilikibintang bintang pada malam hari. Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.
Ayah, tanah untuk tempat kita bermukim dan taman bunga yang kita miliki hanya terbatas di kelilingi rumah rumah tetangga, dan mereka memiliki ladang yang sangat luas melampaui pandangan kita.Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayanisesamanya. Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.
Mendengar celotehan Putranya tersebut, Sang Milioner tak sanggup berbicara.
Terimakasih Ayah, lanjut Sang Putra, Engkau telah membawaku, memperlihatkan padaku betapa MISKIN nya sebenarnya kita. Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain.
Terimakasih sobat yang telah mengirim kisah ini, yang nantinya ini akan menjadi pahala bagi engkau dan bagi banyak orang selain pahala yang di terima akan mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi sehingga mampu melewati krisis global yang tak tahu akhirnya ini, di tahun Kerbau Tanah kita harus kerja keras seperti sifat kerbau yang tak pernah kenal lelah dalam membajak sawah, oke kerja kerja kerja, ibadah juga harus ditingkatkan.
Jumat, 27 Juni 2008
SENYUM SIMPUL
Senyum simpul merupakan suatu karakter seseorang dalam menyikapi sanjungan begitu juga pelecehan yang dihadapinya. Seseorang yang mampu melakukan seperti ini tentu saja telah matang secara lahiriah dan batiniah sehingga kemampuannya memenej suasana hati benar-benar sudah sesuai dengan tujuan hidup sebagai makhluk yang benar-benar kelak ingin meraih nirwana atau syurga. Setelah hari-hari panjang yang akan kita lewati (mari kita merenung dari waktu baligh menuju ke waktu kepulangan ke alam kubur hanya maksimal sehatnya 50 an tahun, tapi dari waktu sahabat, keluarga, dan handaitaulan beranjak dari tanah tempat kita dibaringkan sampai kelak ditempat mana ruh kita pernah berjanji/berucap sebelum ditiupkan ke jasad kita: Aku berjanji tidak ada Tuhan selain ALLAH SWT, kepada Sang Penguasa Alam saat mana ruh ditiupkan kembali mendiami jasad, puluhan, ratusan, ribuan, jutaan tahun lamanya) menunggu antrian penghisaban terhadap catatan panjang perilaku, rencana, kegiatan, strategi yang kita siapkan dalam menginterpretasikan Firman Allah SWT dan juga Sunnah Rasulullah SAW sepanjang hidup kehidupan yang kita jalani dari akil baligh atau awalnya tanggung jawab yang dibebani oleh Rabb kepada seseorang yang sehat akal dan fikirannya sampai kehidupan tersebut kembali pada Sang Pencipta.
Diingatkan oleh Aisyah RA, sang suami Muhammad SAW hanya tersenyum dalam menikmati kebahagian yang beliau peroleh diantaranya sewaktu meraih kemenangan usai pertempuran menghadapi pemberontak-pemberontak pada Sang Khalik, tertawa saat bersama dengan para sahabat beliau. Belum pernah terlihat tertawa terbahak-bahak sehingga memperlihatkan langit-langit mulut beliau.
Adalah Ibn Abbas RA mencoba mengingatkan kita jauh jauh hari dimasa sejarah beliau bahwasanya disaat seseorang melakukan dosa – dosa pada saat mana mereka masih mampu tertawa terbahak – bahak, maka menurut beliau orang tersebut akan memperoleh award, anugrah , dan piala neraka dan akan terpingkal – pingkal menikmati tangisnya.
Dalam hidup dan kehidupan yang semakin modern, canggih, dan global saat ini banyak kita melihat dalam pertemuan, jamuan, tayangan media elektronik TV, handphone seseorang berkelakar dan berkata pelecehan untuk sedianya menghangatkan suasana yang hambar dan kaku sehingga sahabat, teman, keluarga, dan penonton sekelilingnya tertawa terpingkal-pingkal, terbahak-bahak. Marilah kita ingatkan sahabat, teman, keluarga tersebut untuk ber-Istighfar pada Rabb yang telah menciptakan kita karena Sang Pemberi Kehidupan tersebut sangat murka pada cara-cara demikian dan murkaNya akan juga menimpa orang-orang disekitarnya. Dan bagi siapa saja yang menuangkan buah pikirannya dengan kalimat-kalimat yang di Ridhoi oleh Allah SWT maka orang tersebut dan pendengar dalam majlis atau jamuan, pertemuan tersebut akan diberi Reward Rahmat dari Nya.
Firman Allah SWT, tertawalah sedikit itu lebih baik bagimu (SENYUM), karena tertawa bagi orang mukminin yang beriman merupakan suatu kelalaian dalam menjalankan ibadah ( lupa berdzikir, malas mencari nafkah, alpa menyantuni anak-anak yatim, dlsbnya.). Sehingga bila hamba-hambaku tidak lalai dan alpa terhadap hari di Hisab nanti maka hamba-hambaku akan lupa dengan tertawa.
Pintu syurga akan terbuka lebar bagi orang yang menebarkan senyum, berbicara menyejukkan hati pendengarnya, berdzikir siang dan malam, mencari nafkah dengan halal, menyantuni anak yatim hingga dia lupa dengan tertawa, lupa hanya bermain-main di dunia ini, melupakan korupsi, tidak ingat akan narkoba.
Cibinong 25 Juni 2008
